Bagai tersayat pisau


Ku berjalan ditengah gerimis hujan dikala mendung

Kulintasi jalan setapak demi setapak


Gerimis hujan pun semakin membasahi tubuh ku


Lemah, letih, ku menahan rasa ini


Ku coba berlari dari keadaan ku ini


Tapi hanya kehampaan yang ku dapat


Diam…diam lah


Pergi….pergilah dari hadapan ku


Kemana cahaya itu?


Kemana bitang nan terang itu?


Kesunyian menyelimuti diriku


Desiran ombak bagaikan


Rantai – rantai maut yang datang dan


Kini mulai mengikatku yang lemah ini


Bagaiman ku dapat melepesnya?


Desir angin bak cambuk api yang melukai hati ku


Kini ku hanya bisa menatap langit


Langit yang tak berujung yang kutatap


Tiba – tiba setitik sinar mulai muncul


Mendekat….dan makin mendekat


Kini menghampiriku dan memberikan kehangatan


Ia Nampak bak burung merpati


Sayap – sayap nya menyelimuti ku


Hangat ….. hangat sekali


Tapi kini ku mulai bertanya


Sampai kapankah semua ini?


Aku mulai bosan dengan keadaan ini


Keadaan semu yang hanya menambah luka hati di hati


Fatamorgana yang indah tapi tak nyata


Pergi ….pergi…. dari ku


Pergi kalau hanya akan menyisakan luka di hati ini


Enyah….enyah jika hanya ingin mempermainkan


Sekian lama ku menanti


Menanti yang tak pasti, tapi ku coba bertahan


Ia pergi….pergi lagi


Hanya luka kini yang tersisa


Bagai tersayat pisau rasanya


Tapi apala daya ku ini


Hanya dapat terdiam dan terdiam tanpa tau apa yang harus dilakukan

0 komentar:

Poskan Komentar

Plugboard against Backlink

    .

Backlink Sites